Article

Begini Cara UMKM Barokah Home Industry di Pangalengan

Gunakan ERM COSO untuk Matikan 2 'Bom Waktu' Operasional

10 Jan 2026

windowpanes at the building
windowpanes at the building
windowpanes at the building

Banyak pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia, terutama yang bergerak di sektor industri rumahan, sering kali merasa minder ketika mendengar istilah Enterprise Risk Management (ERM) atau kerangka kerja Committee of Sponsoring Organizations (COSO). 

Stigma yang melekat pada konsep ini adalah sebuah proses yang terlampau formal, rumit, dan hanya cocok untuk perusahaan raksasa dengan direksi yang berdiskusi di ruang rapat berpendingin udara. Pemikiran ini adalah kekeliruan fatal yang dapat mengancam keberlangsungan bisnis UKM.

Padahal, realitas di lapangan menunjukkan hal yang justru berkebalikan: UKM dan industri rumahanlah yang paling membutuhkan tameng pelindung ini. 

Mengapa? Jawabannya sederhana, terletak pada keterbatasan modal.

Berbeda dengan korporasi besar yang memiliki cadangan dana talangan (buffer) atau akses mudah ke pinjaman, UKM beroperasi dengan margin yang tipis. Sekali saja salah langkah dalam operasional, baik itu karena mesin produksi mogok, bahan baku busuk, atau lonjakan permintaan yang tidak terantisipasi, seluruh modal kerja bisa terkuras habis. 

Tidak ada “dana talangan raksasa” yang siap menyelamatkan. Manajemen risiko bagi UKM bukanlah kemewahan; ia adalah kitab suci kelangsungan hidup.

Untuk membuktikan bahwa logika manajemen risiko tingkat korporat dapat diterapkan di dapur produksi rumahan, mari kita bedah studi kasus menarik dari Barokah Home Industry. 

UKM olahan susu yang berlokasi di Pangalengan, Kabupaten Bandung, ini bukan sekadar bertahan, tetapi sukses mengintegrasikan prinsip-prinsip ERM untuk mengamankan dan menskalakan operasional mereka.

Membedah Konsep ERM COSO: Sebuah Kerangka Kerja, Bukan Aturan Kaku

Sebelum melangkah lebih jauh, penting untuk meluruskan pemahaman dasar tentang apa itu ERM COSO. Kita tidak perlu pusing dengan singkatannya yang terkesan elitis. Secara substansi, ERM COSO adalah standar emas dunia dalam mengelola risiko bisnis.

  • ERM (Enterprise Risk Management)
    Ini adalah sebuah proses, yang dirancang oleh dewan direksi, manajemen, dan personel lainnya, diterapkan dalam penetapan strategi di seluruh perusahaan. Intinya, ERM adalah proses pengelolaan risiko secara menyeluruh di sebuah perusahaan—mulai dari risiko yang paling kecil di lini produksi hingga risiko yang paling besar di level strategi bisnis. Bukan sekadar risiko keuangan, tetapi juga risiko operasional, risiko kepatuhan (regulasi), risiko reputasi, hingga risiko strategis.

  • COSO (Committee of Sponsoring Organizations)
    Ini adalah nama komite atau lembaga internasional yang menciptakan kerangka kerja (framework) yang menjadi panduan utama dalam praktik ERM. Kerangka kerja COSO, terutama versi terintegrasi yang menghubungkan risiko dengan strategi dan kinerja, memberikan bahasa dan struktur yang sistematis bagi perusahaan untuk mengidentifikasi dan merespons ketidakpastian.

Jadi, ERM COSO adalah kerangka kerja komprehensif, bukan serangkaian aturan hukum kaku yang harus dipatuhi. Ia adalah kompas yang memandu perusahaan untuk mengintegrasikan pandangan risiko ke dalam setiap keputusan bisnis yang mereka ambil.

UKM vs. Ketidakpastian: Pergeseran dari Reaktif ke Proaktif

Kenapa Barokah Home Industry, dan bisnis UKM mana pun, membutuhkan kerangka kerja ini? Karena bisnis Anda berhadapan dengan ketidakpastian setiap hari.

Di level industri rumahan, masalah sering datang bertubi-tubi tanpa peringatan. Hari ini harga tepung naik mendadak, besok mesin pengaduk tiba-tiba mogok, lusa karyawan kunci jatuh sakit. 

Tanpa sistem manajemen risiko, pemilik bisnis hanya akan menjadi pemadam kebakaran. Setiap hari disibukkan dengan memadamkan api masalah yang muncul, tanpa pernah punya waktu luang untuk memikirkan ekspansi, inovasi produk, atau strategi jangka panjang lainnya.

Sistem yang reaktif (menunggu rusak baru bingung mencari solusi) adalah jebakan mematikan bagi UKM. Dengan mengadopsi logika ERM, pola pikir bisnis akan berubah total: dari reaktif menjadi proaktif. Ini adalah pergeseran nasib bisnis dari filosofi "mudah-mudahan untung" menjadi "pasti aman, sehingga bisa untung besar". Dengan perisai risiko yang kokoh, UKM akan siap bersaing dan bertumbuh di kancah yang lebih luas.

Tiga Komponen Utama ERM yang Mengangkat Barokah Home Industry

Berdasarkan studi kasus yang dikembangkan, keberhasilan Barokah Home Industry dalam mengamankan operasionalnya terletak pada penerapan tiga pilar utama manajemen risiko yang sederhana namun mendalam. Tiga pilar ini yang membedakan mereka dari kompetitor sekelasnya yang masih mengandalkan insting atau kebiasaan lama.

1. Mengenal 13 Musuh Operasional

Kebanyakan UKM berhenti pada identifikasi risiko yang sangat umum, misalnya, "risiko rugi" atau "risiko gagal produk." Barokah melakukan langkah cerdas yang lebih maju: mereka berhasil membedah dan menemukan 13 jenis risiko operasional yang spesifik dan terperinci di dalam lini produksi mereka.

Kenapa detail ini penting? Anda tidak akan bisa melawan musuh yang tidak Anda kenal secara spesifik. Risiko yang umum harus dipecah menjadi kejadian-kejadian nyata.

Contoh Identifikasi Risiko Spesifik Barokah:

  • Risiko bahan baku telat datang (risiko supply chain).

  • Risiko adonan gagal (risiko proses produksi).

  • Risiko kemasan rusak (risiko kualitas produk akhir).

  • Risiko mesin overheat (risiko aset).

  • Risiko produk mendekati kedaluwarsa di gudang (risiko inventori).

Dengan mendaftar 13 risiko spesifik ini, Barokah telah memenangkan separuh pertempuran. Daftar ini menjadi pondasi bagi seluruh proses manajemen risiko selanjutnya.

2. Penilaian Risiko dengan Logika Matriks Sederhana

Setelah risiko diidentifikasi, langkah berikutnya adalah menilai mana yang paling berbahaya. Barokah tidak memukul rata semua masalah. Mereka menggunakan pemetaan sederhana, yang lazim disebut Matriks Risiko, dengan mengukur dua dimensi utama:

  • Occurrence (Frekuensi): Seberapa sering risiko ini diperkirakan terjadi.

  • Severity (Dampak): Seberapa parah kerugian finansial atau operasionalnya jika risiko ini benar-benar terjadi.

Logika ini memungkinkan prioritas yang jelas. Misalnya, risiko mesin rusak mungkin jarang terjadi (Occurrence Rendah), tetapi jika kejadian, produksi bisa total berhenti selama berhari-hari (Dampak Tinggi). Sementara itu, risiko label produk miring mungkin sering terjadi (Occurrence Tinggi), tetapi dampaknya kecil, hanya perlu diperbaiki cepat. 

Pemetaan ini memastikan sumber daya dan perhatian manajemen hanya fokus pada risiko yang berpotensi melumpuhkan bisnis.

3. Respon Risiko yang Taktis: Avoidance dan Reduction

Ini adalah bagian paling praktis dan dapat segera ditiru. Barokah merespons risiko berdasarkan hasil penilaian dampak dan frekuensi:

  • Strategi Menghindari (Avoidance) untuk Risiko Tinggi:

    • Untuk risiko tinggi seperti kerusakan alat utama, strategi Barokah adalah menghindari risiko tersebut sebisa mungkin. Caranya bukan dengan berharap tidak terjadi, tetapi dengan melakukan perawatan rutin terjadwal (Preventive Maintenance). Mereka tidak menunggu alat rusak untuk diperbaiki, tetapi melakukan tindakan pencegahan secara disiplin. Ini adalah investasi waktu yang jauh lebih murah daripada biaya perbaikan darurat.

  • Strategi Mengurangi (Reduction) untuk Risiko Moderat:

    • Untuk risiko seperti bahan baku busuk atau kelebihan stok, mereka menggunakan strategi mengurangi dampak dan kemungkinannya. Solusinya adalah dengan menerapkan sistem First In First Out (FIFO). Bahan yang pertama masuk gudang harus pertama keluar atau dipakai. Ini adalah strategi sederhana namun telah menyelamatkan jutaan rupiah dari potensi bahan mentah yang terbuang sia-sia karena kedaluwarsa.

Dua 'Bom Waktu' Level Tinggi yang Mengancam Keuntungan UKM

Bisnis Barokah Home Industry, dan UKM olahan susu pada umumnya, menyimpan dua ancaman operasional dengan skor risiko tertinggi. Kedua masalah ini sering kali dianggap sepele karena sifatnya yang musiman atau laten (tersembunyi).

Ancaman No. 1: Stok Habis Saat Momen Libur Panjang

Risiko

Skor Risiko

Dampak Nyata

Strategi Respon

Stok Habis di Musim Puncak/Libur Panjang

9,9

Kehilangan potensi omzet saat itu, hilangnya loyalitas pelanggan secara permanen, dan beralihnya pembeli ke kompetitor.

Menghindari: Perencanaan demand dan stok dini, produksi stok tambahan, dan komunikasi aktif dengan distributor.

Ini adalah masalah klasik: bisnis terlalu sukses saat musim puncak! Barokah pernah mengalami penumpukan permintaan yang sangat tinggi, terutama menjelang dan saat libur panjang, namun kapasitas produksi dan stok yang tersedia sangat terbatas. Dampaknya melampaui kerugian harian. 

Ketika pembeli kecewa karena barang yang mereka cari tidak tersedia di momen krusial, mereka akan beralih ke kompetitor. Kerugiannya adalah hilangnya nilai bisnis dan loyalitas jangka panjang.

Solusi Pabrik: Menerapkan Strategi Penghindaran Risiko yang Disiplin

Strategi yang diambil adalah bertindak jauh sebelum masalah terjadi, yaitu:

  1. Perencanaan Demand dan Stok Dini: Melakukan proyeksi permintaan dan stok jauh lebih awal—bahkan 2-3 bulan—sebelum periode libur panjang tiba. Ini memerlukan integrasi data historis penjualan.

  2. Produksi Stok Tambahan: Memproduksi stok tambahan yang sesuai dengan prediksi peningkatan permintaan. Stok tambahan ini harus diperlakukan sebagai "persediaan darurat" yang terpisah dari produksi harian normal.

  3. Komunikasi Aktif dan Proaktif: Mengomunikasikan jadwal pengiriman dan ketersediaan stok secara proaktif dengan pelanggan dan distributor. Ini memungkinkan mereka untuk mengatur waktu pemesanan (pre-order) sehingga Barokah dapat mengelola beban produksi dan memastikan tidak ada permintaan besar yang terlewat atau tidak terpenuhi.

Ancaman No. 2: Kerusakan pada Peralatan Produksi Kunci

Risiko

Skor Risiko

Dampak Nyata

Strategi Respon

Kerusakan Mendadak pada Peralatan Produksi Utama

10,2

Berhentinya produksi total, penundaan pesanan, kerugian finansial dari waktu henti (downtime), biaya perbaikan darurat yang mahal.

Menghindari: Perawatan rutin terjadwal, dan penggantian bertahap alat yang sudah tua atau bermasalah.

Risiko ini mencatat skor tertinggi, menunjukkan gabungan antara kemungkinan terjadi dan dampak yang sangat merugikan. Barokah, sebagai industri rumahan, masih mengandalkan alat-alat yang sudah tua dengan sistem produksi yang sebagian masih manual. Akar masalahnya sangat klasik: perawatan alat yang kurang optimal. Jika alat produksi utama rusak mendadak, seluruh lini produksi bisa terhenti, menyebabkan penundaan pesanan dan ketidakmampuan memenuhi target pasar. Bagi UKM, biaya perbaikan darurat atau penggantian alat mendadak bisa menghabiskan kas operasional dalam sekejap.

Solusi Pabrik: Merawat Aset Kunci Secara Rutin (Investasi Minimal, Proteksi Maksimal)

Respons yang diambil juga merupakan strategi menghindari risiko melalui:

  1. Perawatan Rutin Terjadwal: Membuat jadwal teratur, detail, dan disiplin untuk melakukan perawatan alat. Ini adalah investasi waktu dan biaya minimal (seperti pelumasan, pengecekan baut, pembersihan) yang terbukti jauh lebih murah daripada biaya perbaikan darurat yang masif.

  2. Penggantian Bertahap (Gradual Replacement): Mengganti alat yang sudah tua atau sering rusak dengan yang lebih baru dan efisien secara bertahap. Penggantian ini harus dimasukkan dalam anggaran modal jangka pendek perusahaan sebagai bagian dari mitigasi risiko, bukan sebagai biaya tak terduga.

Risiko Moderat yang Sering Disepelekan (The Margin Killer)

Selain dua risiko level High di atas, banyak UKM sering kali mengabaikan risiko level Moderate (Sedang). Meskipun dampak tunggalnya tidak sebesar risiko tinggi, risiko-risiko ini bisa mengikis margin keuntungan dan merusak reputasi secara perlahan namun pasti. Barokah mengidentifikasi lima risiko utama di level ini, yang semuanya direspons dengan strategi Reduksi Risiko, yaitu mengambil tindakan nyata untuk mengurangi kemungkinan atau dampak terjadinya.

1. Kelebihan Stok di Gudang (Skor 9,6)

Masalah: Ketidakseimbangan antara suplai bahan baku/produk dan permintaan, menyebabkan produk jadi menumpuk. Kelebihan stok adalah modal yang mati, meningkatkan biaya penyimpanan, dan paling fatal, meningkatkan risiko produk mendekati kedaluwarsa.

Respons Reduksi:

  • Penerapan Sistem FIFO (First In First Out) untuk memastikan perputaran barang cepat.

  • Memperluas kerjasama dengan distributor atau saluran penjualan untuk mempercepat perputaran barang di pasar.

2. Produk Noga Cacat Saat Masuk Gudang (Skor 9,6)

Masalah: Produk seperti noga yang rapuh menjadi cacat (patah, hancur) karena karyawan kurang berhati-hati saat proses penyimpanan dan pemindahan. Ini adalah murni kerugian yang bisa dihindari.

Respons Reduksi:

  • Pelatihan karyawan (Edukasi) dalam penanganan produk rentan.

  • Menggunakan bahan kemasan sekunder (misalnya boks) yang lebih kuat dan dirancang ergonomis untuk penyimpanan.

3. Potensi Kehilangan Pelanggan (Skor 9,5)

Masalah: Risiko ini berkaitan erat dengan risiko stok habis, namun juga disebabkan oleh layanan yang kaku atau minimnya upaya mempertahankan pelanggan.

Respons Reduksi:

  • Menjaga ketersediaan stok produk kunci agar pelanggan tidak beralih.

  • Membuat layanan pemesanan yang fleksibel (misalnya, sistem pre-order atau pengiriman terjadwal).

  • Rajin memberikan promosi atau diskon berbasis loyalitas untuk mengikat pelanggan jangka panjang.

4. Kesulitan Mendapat Kertas Minyak (Skor 9,3)

Masalah: Ketergantungan pada satu pemasok tertentu dan minimnya alternatif. Di kasus Barokah, kertas minyak yang digunakan bahkan sempat menempel pada karamel, yang berpotensi merusak kualitas dan citra merek.

Respons Reduksi:

  • Mencari Pemasok Alternatif (Sourcing) untuk mengurangi ketergantungan.

  • Inovasi Kemasan: Menguji bahan kemasan pengganti yang berkualitas setara atau lebih baik.

  • Memperbanyak pemesanan stok bahan baku vital, terutama yang memiliki risiko supply tinggi.

5. Cacat Produk Umum (Skor 9,0)

Masalah: Cacat kualitas yang terjadi secara sporadis karena kurangnya pengawasan selama proses produksi secara keseluruhan.

Respons Reduksi:

  • Peningkatan pengawasan dengan menambah staf Quality Control (QC) yang terlatih dan berwenang.

  • Memastikan penggunaan Standar Prosedur Kerja (SOP) yang jelas di setiap stasiun kerja.

Celah Fatal: Jebakan 'Manajemen Lisan' (The Silent Killer)

Pelajaran paling berharga dari studi kasus Barokah ada pada plot twist di tengah kesuksesan implementasi ERM mereka. Meskipun sudah menerapkan identifikasi, penilaian, dan respons risiko di atas, implementasi di Barokah Home Industry (dan mayoritas UKM) masih menyimpan lubang besar: Manajemen Lisan dan Reaktivitas yang Belum Sepenuhnya Hilang.

Absennya SOP Tertulis (The Silent Killer)

Ini adalah penyakit kronis industri rumahan: Prosedur penanganan risiko dan operasional seringkali hanya ada di kepala si Bos atau karyawan senior yang sudah puluhan tahun bekerja. Tidak ada dokumen tertulis yang sistematis.

Apa Akibatnya?

  • Ketidakkonsistenan Kualitas: Kalau karyawan senior libur atau sakit, standar keamanan dan kualitas turun.

  • Ketergantungan pada Individu: Sistem operasionalnya bergantung pada orang, bukan pada prosedur. Jika pemilik sakit atau berhalangan, keputusan macet.

  • Hambatan Skalabilitas: Bisnis tidak bisa diperbesar atau ditiru di lokasi lain karena "resep rahasia" dan "prosedur aman" ada di kepala orang, bukan di kertas. Risiko operasional kembali tinggi karena sistem tidak mandiri.

Sifat Reaktif yang Belum Terstruktur

Penerapan ERM mereka seringkali belum berbasis data menyeluruh, melainkan masih didasarkan pada "kebiasaan" atau pengalaman buruk di masa lalu. Respon risiko baru muncul ketika masalah sudah di depan mata atau pernah kejadian sebelumnya. 

Belum ada simulasi untuk risiko yang belum pernah terjadi, namun mungkin terjadi (misalnya, perubahan mendadak pada regulasi BPOM atau munculnya teknologi kompetitor baru). Ini adalah bentuk reaktivitas yang terselubung.Strategi Tambahan: Mengubah 'Cerita Rakyat' Menjadi Sistem yang Terukur

Agar celah fatal di atas tertutup, strategi kunci bagi UKM adalah Dokumentasi dan Edukasi yang masif.

Jangan biarkan ilmu manajemen risiko itu menjadi "cerita rakyat" yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi. Tuliskan! Tuliskan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh operator di lini produksi, bukan bahasa konsultan.

Langkah Praktis Dokumentasi dan Edukasi:

  1. Ceklis Sederhana: Buat ceklis sederhana untuk perawatan mesin harian, mingguan, dan bulanan. Cetak, tempel di dekat mesin, dan wajib ditandatangani. Ini adalah SOP dasar.

  2. Visualisasi Alur: Tempel poster alur FIFO di gudang, lengkap dengan visualisasi dan tanda panah. Jangan cuma mengandalkan tulisan.

  3. Optimasi Berbasis Data: Optimalkan kapasitas produksi, pembelian bahan baku, dan penjadwalan SDM berdasarkan data historis yang tercatat, bukan berdasarkan tebakan atau perasaan. Ini akan mencegah penumpukan stok yang memicu risiko kerusakan dan kedaluwarsa.

Dukungan Aturan Pemerintah: ERM Sebagai Kewajiban Terselubung

Pemerintah sebenarnya sudah "memaksa" secara halus agar UKM sadar risiko lewat regulasi dan insentif yang ada. Regulasi ini adalah bagian dari manajemen risiko secara makro:

  • Sertifikasi Halal & BPOM: Syarat untuk mendapatkan sertifikasi ini adalah memiliki alur produksi yang higienis, terkontrol, dan terdokumentasi. Ini sejatinya adalah manajemen risiko kontaminasi produk dan risiko kepatuhan (compliance risk) terhadap regulasi pangan.

  • Akses KUR (Kredit Usaha Rakyat): Bank hanya mau mencairkan dana ke UKM yang punya laporan keuangan jelas dan, yang terpenting, mitigasi risiko usaha yang masuk akal. Laporan risiko yang sistematis meningkatkan kredibilitas UKM di mata lembaga keuangan.

Epilog: Saatnya Transformasi dari 'Warung' Menjadi Korporasi Profesional

Belajar dari kasus Barokah Home Industry, kita tahu bahwa ERM COSO bukanlah menara gading yang tidak terjangkau. Ia bisa diterapkan secara membumi di dapur produksi rumahan dengan metode sederhana seperti sistem FIFO, ceklis perawatan rutin, dan pelatihan penanganan produk.

Namun, pelajaran terpentingnya adalah: jangan puas hanya dengan "yang penting jalan" dan omzet bagus. Tanpa dokumentasi yang rapi dan pergeseran total dari reaktif ke proaktif, bisnis Anda menyimpan bom waktu. Celah fatal dalam manajemen risiko yang terlalu bergantung pada pemilik bisa membuat kerja keras bertahun-tahun lenyap karena satu kesalahan operasional.

Manajemen risiko adalah tentang membuat bisnis Anda tahan banting, memiliki sistem yang bekerja untuk Anda, sehingga bisnis dapat berjalan aman dan autopilot tanpa harus bergantung penuh pada kehadiran Anda setiap hari.

Tanya Jawab Seputar ERM dan UKM

  1. Apakah menerapkan ERM COSO itu mahal bagi UKM?
    Tidak, biaya terbesarnya bukanlah uang, melainkan disiplin. Contohnya sistem FIFO atau pembuatan ceklis mesin adalah tindakan yang gratis, tetapi menuntut konsistensi operasional dari seluruh tim.

  2. Apa itu sistem FIFO dalam konteks manajemen risiko?
    FIFO adalah singkatan dari First In First Out. Artinya, barang atau bahan baku yang pertama kali masuk gudang harus menjadi yang pertama kali keluar atau dipakai dalam produksi. Ini adalah langkah pencegahan efektif untuk menghindari risiko bahan baku kedaluwarsa atau rusak karena tertimbun terlalu lama.

  3. Bagaimana cara termudah memulai pembuatan SOP risiko yang sederhana?
    Mulailah dari menuliskan apa yang sudah dilakukan dengan benar setiap hari. Misalnya, "Setiap pagi, nyalakan mesin A selama 5 menit sebelum digunakan untuk produksi." Tuliskan, cetak, dan tempelkan di lokasi kerja. Proses pendokumentasian kebiasaan baik ini sudah menjadi dasar dari sebuah SOP yang fungsional.

  4. Apa perbedaan mendasar antara risiko 'Occurrence' dan 'Severity'?
    Occurrence (Frekuensi) adalah ukuran seberapa sering kejadian risiko diperkirakan akan muncul dalam periode waktu tertentu. Severity (Dampak) adalah ukuran seberapa parah kerugian (finansial, reputasi, operasional) yang akan muncul jika kejadian risiko tersebut benar-benar terjadi. Keduanya diukur untuk menentukan prioritas risiko.

  5. Kenapa UKM sering gagal dalam penerapan manajemen risiko?
    Kegagalan utama sering kali terjadi karena pemilik atau manajemen menganggap proses ini membuang waktu dan terlalu bergantung pada instruksi lisan dari pemilik. Akibatnya, tidak terbentuk sistem yang mandiri dan terstruktur yang dapat diandalkan oleh seluruh karyawan.

Subject Matter Expertise

Butuh konsultasi lebih lanjut tentang

Governance, Risk, & Compliance

Share on :

Baca Juga Insight lainnya
Tren Go Lokal 2026

Peluang Emas Bisnis Domestik

ARTICLE

16 Feb 2026

low angle photography of high rise building under blue sky during daytime
low angle photography of high rise building under blue sky during daytime
low angle photography of high rise building under blue sky during daytime
Menembus Pasar Digital dengan Brand Kuat

Strategi Efektif untuk Startup dan Usaha Kecil

ARTICLE

12 Feb 2026

low angle photography of high rise building under blue sky during daytime
low angle photography of high rise building under blue sky during daytime
low angle photography of high rise building under blue sky during daytime
7 Jurus Inovasi Produk

Menangkan Persaingan

ARTICLE

9 Feb 2026

low angle photography of high rise building under blue sky during daytime
low angle photography of high rise building under blue sky during daytime
low angle photography of high rise building under blue sky during daytime

Let's Shape
Your Future Together

Whether you’re a startup looking to disrupt the market or an established organization seeking to optimize operations, Proxsis Consulting is here to guide you on your journey. Let’s collaborate to turn challenges into opportunities and build a prosperous future for your business. Contact us today to get started.

🇮🇩 Indonesia